
Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025, tingkat literasi pasar modal masyarakat masih berada di angka 17,78 persen.
Hal ini menunjukkan masih rendahnya pemahaman masyarakat terhadap investasi yang benar, sehingga berpotensi meningkatkan risiko penipuan.
Hasan juga menekankan bahwa saat ini akses terhadap pasar modal semakin mudah melalui teknologi digital, sehingga masyarakat, termasuk mahasiswa, memiliki peluang besar untuk mulai berinvestasi.
“Di sisi lain, pasar modal juga menyediakan berbagai peluang investasi menarik yang bisa diakses sekarang dengan mudah oleh siapa saja, termasuk adik-adik mahasiswa, karena sekarang layanan pasar modal itu datang ke ruangan-ruangan kita semua melalui layanan di smartphone kita masing-masing,” kata Hasan.
Meski demikian, ia mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam berinvestasi, termasuk memahami profil risiko dan menghindari perilaku spekulatif.
“Ada potensi volatilitas atau pergerakan harga yang naik turun secara tajam, maraknya penipuan yang bisa jadi di belakangnya seolah-olah investasi legal untuk saham dan kripto, kemudian juga ada potensi akun-akun yang dapat disalahgunakan untuk tindak kejahatan seperti pencucian uang, misalnya. Ini tentu harus menjadi perhatian kita semua,” tambahnya.





