
Lebih lanjut, Dicky menegaskan bahwa penguatan literasi keuangan tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari regulator, dunia pendidikan, industri jasa keuangan, hingga komunitas. Sinergi tersebut dinilai penting untuk menciptakan ekosistem literasi yang inklusif dan berkelanjutan.
Pandangan serupa disampaikan Chair of the OECD International Network on Financial Education, Magda Bianco, yang menyoroti tantangan era digital dalam pengelolaan keuangan.
Ia menilai kemudahan akses informasi dan berkembangnya berbagai instrumen investasi baru justru membawa risiko jika tidak diimbangi dengan pemahaman yang memadai.
“Pengetahuan yang didapat sejak sekolah lebih mudah tertanam hingga dewasa. Ini juga langkah efektif untuk mengurangi kesenjangan sosial ekonomi, sehingga setiap siswa memiliki peluang yang sama di masa depan,” jelas Magda.
Menurutnya, berbagai studi menunjukkan bahwa individu dengan literasi keuangan yang baik cenderung lebih tangguh menghadapi tekanan ekonomi, terhindar dari jeratan utang berlebih, serta mampu mengenali potensi penipuan atau investasi ilegal.





