Terbangun Pukul 3 Pagi? Bisa Jadi Itu Sisa Pola Tidur Leluhur Manusia

SOLUSIMEDIA.ID — Pernah terbangun pukul 3 pagi lalu bertanya-tanya apakah kualitas tidur Anda bermasalah? Menurut Darren Rhodes, dosen Psikologi Kognitif sekaligus Direktur Environmental Temporal Cognition Lab di Keele University, pengalaman tersebut justru sangat manusiawi.
Dalam tulisannya di The Conversation, Rhodes menjelaskan bahwa konsep tidur delapan jam tanpa terputus sebenarnya merupakan kebiasaan modern.
Secara historis dan evolusioner, manusia justru terbiasa tidur dalam dua sesi setiap malam, yang dikenal sebagai first sleep (tidur pertama) dan second sleep (tidur kedua).
Selama berabad-abad, masyarakat di Eropa, Afrika, hingga Asia tidur lebih awal setelah malam tiba, kemudian terbangun sekitar tengah malam sebelum kembali tidur hingga fajar. Jeda ini bukan waktu yang terbuang.
Banyak orang memanfaatkannya untuk berdoa, membaca, menulis, merenungkan mimpi, hingga bercengkerama pelan dengan keluarga.
Bahkan, karya sastra kuno dari Homer dan Virgil telah menyebut “jam yang mengakhiri tidur pertama”, menandakan pola tersebut lazim pada masa itu.
Mengapa Pola Ini Menghilang?
Perubahan besar terjadi dalam dua abad terakhir, terutama akibat kemunculan pencahayaan buatan.





