SOLUSIMEDIA.ID, JAKARTA — Kinerja intermediasi perbankan nasional terus menunjukkan tren positif di tengah tekanan global yang belum mereda.
OJK mencatat penyaluran kredit tetap tumbuh solid dengan profil risiko yang terjaga, mencerminkan ketahanan sektor perbankan dalam menghadapi volatilitas pasar dan lonjakan harga energi dunia.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae menjelaskan pada Maret 2026, khusus kredit UMKM tercatat sebesar Rp1.498,64 triliun dan mulai tumbuh positif sebesar 0,12 persen yoy setelah sebelumnya mengalami kontraksi.
Rasio NPL UMKM juga terjaga di level 4,60 persen meskipun tekanan daya beli masyarakat masih berlangsung.
Pertumbuhan kredit UMKM ditopang oleh segmen mikro dan menengah, serta didorong oleh sektor pertanian, aktivitas keuangan dan asuransi, serta sektor akomodasi dan makanan-minuman.
Menurut Dian, penguatan ekosistem menjadi kunci keberlanjutan pertumbuhan UMKM. Perbankan diharapkan aktif memberikan pendampingan untuk meningkatkan produktivitas dan akses pasar, sementara pelaku UMKM perlu meningkatkan kapasitas usaha dan memperluas jejaring bisnis.
Strategi yang dapat ditempuh perbankan antara lain melalui pendekatan rantai pasok, digitalisasi proses kredit, serta peningkatan literasi keuangan.
Di sisi lain, berbagai program pemerintah seperti insentif pajak bagi UMKM dan dukungan terhadap sektor padat karya diharapkan mampu memperkuat daya beli dan mendorong pertumbuhan kredit yang lebih inklusif ke depan.
OJK bersama pemerintah terus mendorong penguatan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebagai pilar ekonomi inklusif. Salah satunya melalui penerbitan POJK Nomor 19 Tahun 2025 tentang Kemudahan Akses Pembiayaan UMKM.
Kebijakan ini sejalan dengan agenda prioritas pemerintah dalam meningkatkan lapangan kerja, pemerataan ekonomi, serta pengentasan kemiskinan. Melalui regulasi tersebut, perbankan didorong untuk menyediakan akses kredit yang lebih mudah, cepat, dan terjangkau bagi pelaku UMKM.
Secara umum OJK mencatat pada Maret 2026 kredit perbankan tumbuh 9,49 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp8.659,05 triliun.
Angka ini meningkat dibandingkan Februari 2026 yang tumbuh 9,37 persen yoy, dengan kontribusi dari bank BUMN, bank swasta nasional, bank asing, serta kantor cabang bank luar negeri.
Dari sisi risiko, kualitas kredit tetap terjaga. Rasio Loan at Risk (LaR) turun menjadi 8,94 persen, sementara Non-Performing Loan (NPL) gross dan net masing-masing berada di level 2,14 persen dan 0,83 persen—membaik dibandingkan bulan sebelumnya. Hal ini menunjukkan kemampuan perbankan dalam mengelola risiko di tengah ketidakpastian global.
Di sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) juga tumbuh kuat sebesar 13,55 persen yoy menjadi Rp10.230,81 triliun. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh peningkatan giro, deposito, dan tabungan. Sementara itu, rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) berada di level 84,64 persen, mencerminkan likuiditas yang masih memadai untuk mendukung ekspansi kredit ke depan.
“Peningkatan volatilitas global tetap menjadi perhatian, namun perbankan Indonesia memiliki permodalan yang kuat dan likuiditas yang cukup untuk menyerap potensi tekanan ke depan,” ujar Dian.
Secara sektoral, pertumbuhan kredit terutama didorong oleh sektor konstruksi, rumah tangga, dan industri pengolahan. Dari sisi penggunaan, kredit investasi mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 20,85 persen, diikuti kredit konsumsi dan modal kerja. Sementara itu, kredit korporasi tumbuh signifikan, sedangkan kredit UMKM mulai menunjukkan pemulihan.
OJK menegaskan bahwa penguatan intermediasi ini menjadi indikator penting bahwa sektor perbankan tetap mampu menjalankan fungsi utamanya sebagai penyalur pembiayaan bagi perekonomian, sekaligus menjaga stabilitas sistem keuangan nasional di tengah dinamika global yang menantang. (*)





