
Ia menilai sistem yang diterapkan di Mulyoagung menjadi bukti bahwa persoalan sampah dapat diatasi melalui penguatan kelompok swadaya masyarakat (KSM) yang diberi ruang untuk bergerak secara mandiri dan legal.
Di TPS3R tersebut, sampah organik diolah menjadi kompos dan pakan ternak melalui budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF). Sementara sampah anorganik dipilah berdasarkan jenis material dan polimernya sehingga memiliki nilai jual lebih tinggi dalam industri daur ulang.
Melalui sistem itu, volume residu yang dibuang ke TPA mampu ditekan hingga di bawah 15 persen. Capaian tersebut menjadi perhatian khusus bagi delegasi Makassar di tengah meningkatnya beban sampah di TPA Tamangapa.
Anggota Dewan Lingkungan Kota Makassar, Mashud Azikin, menyebut pendekatan pengelolaan sampah berbasis warga seperti di Mulyoagung sangat relevan diterapkan di Makassar.
“Selama ini kita terlalu fokus memindahkan sampah dari satu tempat ke tempat lain. Padahal inti persoalannya adalah bagaimana sampah berhenti menjadi beban sejak dari rumah tangga. Di sini pengolahan berbasis masyarakat benar-benar berjalan,” katanya.





