
Ia menjelaskan, buku yang ditulis ASN tidak harus selalu bersifat akademik atau menggunakan bahasa yang terlalu berat. Justru, kata dia, tulisan yang sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari akan lebih mudah dipahami serta memberi dampak lebih luas bagi masyarakat.
Munafri mendorong para ASN mengangkat berbagai tema yang relevan dengan kehidupan sosial masyarakat, seperti pengelolaan sampah, kepedulian lingkungan, pelayanan publik, edukasi sosial, hingga materi pembelajaran sederhana bagi pelajar tingkat SD dan SMP.
Menurutnya, apabila setiap organisasi perangkat daerah (OPD) mampu menghasilkan minimal satu buku setiap tahun, maka Pemerintah Kota Makassar dapat memproduksi sekitar 150 buku baru yang berisi edukasi, pengalaman birokrasi, maupun gagasan pembangunan daerah.
“Buku-buku itu nantinya dapat didistribusikan ke sekolah negeri dan swasta sebagai bahan bacaan yang kontekstual serta mudah dipahami siswa,” katanya.
Munafri juga menilai penguatan budaya literasi tidak bisa dilakukan sendiri oleh pemerintah.
Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, penerbit, komunitas literasi, hingga berbagai pemangku kepentingan lainnya agar gerakan literasi dapat berjalan secara berkelanjutan.





