
Menurutnya, kerja sama antara Unhas dan James Cook University yang dimulai sejak 2022 tidak hanya berorientasi pada pengumpulan data ilmiah, tetapi juga diarahkan untuk membangun model konservasi yang melibatkan masyarakat sebagai bagian penting dari solusi.
“Temuan ini bukan hanya tentang menyelamatkan satu spesies langka, tetapi juga tentang bagaimana kita membangun model konservasi yang adil, kolaboratif, dan dapat diterima masyarakat. Karena itu, kami mendorong lahirnya konsorsium riset hiu dan pari di Kalimantan agar penguatan data ilmiah dan kebijakan dapat berjalan beriringan,” jelas Prof Rohani.
Di sisi lain, peneliti dari James Cook University, Dr. Michael Grant, mengungkapkan bahwa Sungai Sesayap telah ditetapkan sebagai Important Shark and Ray Area (ISRA) pada tahun 2024. Pengakuan internasional tersebut menegaskan pentingnya kawasan itu sebagai daerah asuhan (nursery ground) bagi hiu sungai yang sangat langka.
Meski demikian, diskusi dalam workshop tidak hanya berbicara mengenai spesies dan habitat. Perhatian besar juga diarahkan pada kehidupan masyarakat pesisir yang selama ini hidup berdampingan dengan ekosistem sungai dan muara.





