
Salah satu temuan penting yang mengemuka adalah fakta bahwa Hiu Gangga bukan target utama tangkapan nelayan. Spesies tersebut umumnya tertangkap secara tidak sengaja (bycatch) ketika nelayan memasang jaring di kawasan muara. Nilai ekonominya yang rendah membuat hiu ini tidak diburu secara khusus oleh masyarakat.
Fakta tersebut kemudian menjadi dasar penting dalam merumuskan pendekatan konservasi yang lebih adil. Para pemangku kepentingan sepakat bahwa perlindungan terhadap Hiu Gangga tidak akan diarahkan pada larangan total penangkapan, melainkan melalui skema perlindungan terbatas, seperti pelepasan anakan hiu, pengaturan ukuran tangkap, dan pembatasan alat tangkap tertentu. Pendekatan ini dinilai lebih realistis sekaligus menjaga keberlanjutan ekonomi masyarakat pesisir.
Sebagai langkah lanjutan, tim peneliti akan melakukan penelitian sosial-ekonomi di delapan desa sepanjang Sungai Sesayap untuk memetakan hubungan masyarakat dengan hiu dan pari, sekaligus mengidentifikasi bentuk insentif konservasi yang tepat.
Sosialisasi publik juga akan diperkuat melalui kartu identifikasi bergambar, poster edukasi, hingga pertemuan warga agar masyarakat semakin memahami pentingnya perlindungan spesies langka tersebut.





