
Menurutnya, pengembangan urban farming perlu terintegrasi dengan pengolahan kompos dan budidaya maggot sehingga tercipta sistem pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Kita ingin sampah organik tidak lagi menjadi beban, tetapi menjadi sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali. Urban farming harus terhubung dengan pengolahan kompos dan maggot agar tercipta siklus berkelanjutan yang juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya.
Selain itu, Melinda menekankan pentingnya edukasi berkelanjutan kepada Kelompok Wanita Tani (KWT) dan masyarakat terkait pengelolaan lingkungan yang produktif dan bernilai ekonomi. Setiap wilayah juga didorong untuk mengembangkan komoditas unggulan sesuai potensi lokal agar hasil yang diperoleh lebih optimal.
Untuk memperkuat implementasi program, Dewan Lingkungan Hidup Makassar mengusulkan kehadiran penyuluh urban farming di setiap kecamatan. Pendampingan tersebut diharapkan mampu meningkatkan kapasitas masyarakat dalam budidaya tanaman, pengolahan kompos, hingga pemanfaatan hasil panen secara maksimal.





