
Ia mengungkapkan, proses penertiban berlangsung kondusif dan mendapat dukungan masyarakat. Sebelum pelaksanaan, pihak kecamatan dan kelurahan telah melakukan sosialisasi serta pendekatan persuasif secara intensif kepada warga terdampak.
Bahkan, sebagian warga secara sukarela melakukan pembongkaran mandiri sebelum tim gabungan turun ke lapangan. Sementara bangunan yang masih menyisakan konstruksi permanen dibantu pembongkarannya menggunakan alat berat milik Dinas Pekerjaan Umum.
“Alhamdulillah ada yang melakukan pembongkaran mandiri dan ada beberapa juga yang kami bongkar. Yang tidak bisa dibongkar secara manual dibantu ekskavator dari Dinas PU. Namun secara umum masyarakat tetap bersedia dibongkar,” tuturnya.
Penertiban tersebut melibatkan berbagai unsur, mulai dari Dinas Pekerjaan Umum, Satpol PP, Dinas Perhubungan, unsur tata ruang, RT/RW, hingga tokoh masyarakat setempat.
Syahrir menyebutkan, total sekitar 40 bangunan dan lapak ditertibkan dalam kegiatan tersebut.
“Total semuanya sekitar 40 lapak. Bangunan yang ditertibkan berada di atas drainase dan trotoar. Jadi, bukan mengambil lahan warga lain, tetapi karena berdiri di atas fasilitas umum dan mengganggu fungsi drainase, maka harus ditertibkan,” ungkapnya.





