
Sementara itu, Tim Inovasi sekaligus Fasilitator Lapangan SALAMA, Nurmadia Syam, S.Kep., M.Sos., C.Ht., mengatakan proses pendampingan menjadi momentum penting untuk memperkuat kualitas inovasi, khususnya dalam mendokumentasikan dampak yang dirasakan langsung oleh sekolah, guru, maupun peserta didik.
“Yang kami bangun bukan sekadar dokumen untuk kompetisi, tetapi bukti bahwa inovasi ini benar-benar mengubah cara anak-anak memahami dan merespons risiko bencana. Dampak itulah yang ingin kami hadirkan secara konsisten,” katanya.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Makassar, Dr. Muhammad Fadli, S.E., M.M., menegaskan bahwa ketangguhan daerah harus dibangun jauh sebelum bencana terjadi, salah satunya melalui pendidikan yang menanamkan kesadaran, keterampilan, dan karakter sejak usia dini.
Menurutnya, setiap anak perlu memiliki kemampuan mengenali risiko bencana, menyelamatkan diri, mengambil keputusan yang tepat saat kondisi darurat, serta memiliki kepedulian terhadap keselamatan sesama.
“Bencana tidak memilih usia. Karena itu, kesiapsiagaan juga harus dibangun sejak anak-anak. Kami ingin setiap anak di Kota Makassar tumbuh dengan pengetahuan untuk mengenali risiko, kemampuan menyelamatkan diri, keberanian mengambil keputusan yang tepat saat kondisi darurat, serta kepedulian untuk melindungi sesama. Itulah investasi terbesar dalam membangun kota yang tangguh terhadap bencana,” ujar Fadli.





