
Ia menjelaskan, setelah diterapkan di 30 sekolah yang tersebar di tujuh kecamatan rawan bencana, implementasi SALAMA akan diperluas sepanjang 2026 dengan target menjangkau 100 sekolah.
Perluasan tersebut menjadi bagian dari komitmen BPBD Makassar untuk menjadikan pendidikan kebencanaan sebagai gerakan bersama yang melibatkan sekolah, keluarga, hingga masyarakat.
Fadli menegaskan, penghargaan bukanlah tujuan utama pengembangan inovasi tersebut. Lebih dari itu, BPBD Makassar ingin menjadikan SALAMA sebagai model edukasi kebencanaan berbasis anak yang dapat diterapkan di berbagai daerah di Indonesia.
“Penghargaan tentu menjadi kebanggaan, tetapi tujuan utama kami jauh lebih besar. Kami ingin SALAMA menjadi model edukasi kebencanaan berbasis anak yang dapat diterapkan di berbagai daerah di Indonesia. Jika budaya sadar bencana tumbuh sejak ruang kelas, maka kita sedang menyiapkan generasi yang lebih siap menghadapi tantangan masa depan,” tegasnya.
Dengan dukungan pendampingan BRIDA Kota Makassar dan penguatan implementasi di lapangan, BPBD Makassar optimistis inovasi SALAMA mampu bersaing pada Innovative Government Award (IGA) 2026 sekaligus menjadi praktik baik dalam pengembangan pendidikan kebencanaan dan pengurangan risiko bencana di Indonesia. (*)





