
Salah satu program yang paling diminati masyarakat adalah penukaran sampah anorganik dengan kebutuhan pokok. Setiap Rabu sore, usai pengajian rutin, warga membawa gelas plastik yang telah dibersihkan untuk ditukarkan dengan minyak goreng, beras, maupun gula.
“Setelah mengaji, ibu-ibu mengumpulkan gelas plastik yang sudah bersih, kemudian ditukar dengan kebutuhan pokok seperti minyak goreng, beras dan gula melalui bank sampah unit,” ungkap Sri Rahmi.
Melalui sistem tersebut, hanya sampah residu yang diangkut petugas kebersihan menuju TPA sehingga volume sampah yang dibuang dapat ditekan secara signifikan.
Sri Rahmi menuturkan, keberhasilan program tersebut tidak terlepas dari pendekatan persuasif yang dilakukan kepada masyarakat. Selain memberikan edukasi secara berkelanjutan, pihaknya juga menyediakan insentif berupa sembako bagi warga yang aktif berpartisipasi dalam kegiatan bank sampah.
“Mungkin karena pendekatannya. Kami memberikan hadiah berupa sembako seperti minyak goreng, beras dan gula kepada warga yang aktif,” ujarnya.
Ia berharap masyarakat tidak hanya membiasakan diri memilah sampah, tetapi juga mulai mengolahnya agar memberikan manfaat yang lebih besar bagi lingkungan maupun ekonomi keluarga.





