
Menurut Shinta, perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan artifisial (AI), akan mengubah kebutuhan kompetensi di dunia kerja. Oleh karena itu, generasi muda perlu membekali diri dengan keterampilan masa depan melalui proses upskilling dan reskilling, sekaligus mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, adaptasi, kepemimpinan, dan pemecahan masalah agar tetap relevan di tengah transformasi industri.
Lebih jauh, Shinta menyebutkan, kewirausahaan dipandang sebagai salah satu solusi strategis dalam menghadapi tantangan tersebut. Indonesia memiliki ekosistem UMKM dan startup yang terus berkembang, namun masih membutuhkan lebih banyak wirausahawan yang mampu menciptakan inovasi dan membuka lapangan kerja.
Untuk mewujudkan hal tersebut, diperlukan dukungan berupa akses pembiayaan, penguatan kapasitas, regulasi yang kondusif, serta kolaborasi lintas sektor agar potensi generasi muda dapat berkembang secara optimal
“Indonesia tidak kekurangan talenta, tetapi membutuhkan ekosistem kolaborasi yang mampu mengubah talenta menjadi entrepreneur, inovator, dan pencipta lapangan kerja,” tambah Shinta.





