
Menurut Helmy, perbedaan komposisi tersebut menunjukkan karakteristik timbulan sampah di setiap wilayah tidak sama. Ada kecamatan yang menghasilkan sampah anorganik cukup tinggi, sementara wilayah lainnya lebih banyak menghasilkan residu.
“Kondisi ini sekaligus menunjukkan pentingnya pemilahan sejak dari sumber agar sampah yang masih dapat dimanfaatkan tidak bercampur dan berakhir sebagai residu,” katanya.
Kecamatan Mamajang menjadi salah satu wilayah dengan timbulan sampah cukup tinggi, yakni mencapai 394,06 kilogram. Dari jumlah tersebut, sampah residu mendominasi dengan 338,4 kilogram.
Sementara itu, Kecamatan Tamalate mencatat 220,48 kilogram sampah dengan komposisi anorganik mencapai 131 kilogram. Adapun Kecamatan Ujung Tanah mengumpulkan 196 kilogram yang terdiri atas 76,6 kilogram sampah organik, 109,2 kilogram anorganik, dan 10,2 kilogram residu.
Helmy menegaskan, sampah yang terkumpul dalam Jelajah Sampah tidak langsung seluruhnya dibawa ke tempat pemrosesan akhir. Sampah terlebih dahulu dipilah berdasarkan jenisnya untuk menentukan proses pengelolaan yang sesuai.
Sampah organik seperti sisa makanan dan daun diarahkan untuk diolah menjadi kompos melalui fasilitas pengolahan yang tersedia di tingkat kecamatan maupun kelurahan. Di sejumlah wilayah, sampah organik juga dimanfaatkan untuk biopori dan pengolahan di Teba.





