
Terapi konvensional selama ini mengandalkan penghilangan biofilm dan kalkulus melalui scaling dan root planing (SRP). Namun, kompleksitas biofilm subgingiva menjadi salah satu tantangan dalam mencapai hasil perawatan optimal.
Karena itu, bahan alam dinilai memiliki potensi sebagai terapi pendukung. Kandungan seperti flavonoid, polifenol, terpenoid, dan alkaloid memiliki sifat antibakteri, antiinflamasi, antioksidan, serta berpotensi mendukung regenerasi jaringan.
Penelitian terhadap bahan alam juga diarahkan pada pengembangan biomaterial, termasuk pemanfaatan hidroksiapatit dari sumber laut yang memiliki karakter biokompatibel dan osteokonduktif.
Biomaterial dari Sumber Daya Lokal
Prof. Dr. Juni Jekti Nugroho, Guru Besar Ilmu Biomaterial Endodontik Fakultas Kedokteran Gigi, mengangkat tema “Peran Biomaterial Endodontik dalam Preservasi dan Regenerasi Jaringan Gigi”.
Menurutnya, pemilihan biomaterial menjadi faktor penting dalam mempertahankan jaringan gigi, khususnya pada kondisi pulpa yang terbuka akibat karies, trauma, maupun tindakan perawatan.
Kalsium hidroksida selama beberapa dekade menjadi salah satu bahan penting dalam endodontik karena memiliki efek antibakteri dan mampu merangsang pembentukan jaringan pelindung. Namun, bahan tersebut memiliki sejumlah keterbatasan sehingga mendorong pengembangan biomaterial baru berbasis kalsium silikat.





