
Munafri menilai kondisi tersebut menjadi alasan penting bagi pemerintah untuk terus mendorong pembenahan kawasan.
“Kalau kita masuk di Makassar, masuk di tol, sudah mau masuk di Kota Makassar melihat kampung yang ada di bantaran sungai ini, itu sudah dicat warna-warni,” kata Munafri.
Menurutnya, penataan Kampung Warna-Warni Buloa bukan hanya bertujuan memperindah lingkungan. Lebih jauh, program tersebut diharapkan menjadi bagian dari upaya menciptakan kawasan permukiman yang lebih tertata dan nyaman bagi masyarakat.
Penataan dilakukan melalui kolaborasi antara pemerintah kecamatan, kelurahan dan pihak swasta. Dukungan dari sektor swasta diberikan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR).
“Ini bersama dengan Pak Lurah, bersama dengan Pak Camat, kita membangun komunikasi dengan pihak swasta melalui dana CSR. Mereka memberikan respons yang baik,” ujarnya.
Munafri menyebut, sekitar 200 rumah telah mendapatkan sentuhan warna pada tahap awal penataan.
“Kurang lebih 200 rumah yang dicat dengan warna-warni. Ya, pelan-pelanlah,” tuturnya.
Meski perubahan fisik kawasan mulai terlihat, Munafri menegaskan pembenahan permukiman tidak boleh berhenti sebatas mempercantik tampilan.





