
Menurutnya, penyelesaian antrean BBM tidak cukup hanya dengan memastikan ketersediaan stok. Pengaturan teknis di lapangan juga perlu dibenahi agar pelayanan kendaraan lebih cepat dan antrean tidak meluber hingga mengganggu arus lalu lintas.
Salah satu langkah yang diusulkan ialah mengaktifkan seluruh nozzle atau selang pengisian yang tersedia di SPBU, disertai penambahan petugas operator.
“Antrean mengular karena keterbatasan petugas. Misalnya empat dispenser di SPBU hanya dijaga satu orang. Perlu penambahan petugas agar setiap nozzle aktif untuk memotong waktu tunggu kendaraan,” ujarnya.
Selain itu, Munafri mendorong pengaturan alur kendaraan berdasarkan jenisnya, mulai kendaraan pribadi, ekspedisi, hingga bus. Sistem klasterisasi dan pembagian waktu pengisian dinilai dapat mencegah penumpukan kendaraan pada satu titik.
Ia juga mengusulkan agar SPBU di wilayah penyangga, khususnya Maros dan Gowa, dioptimalkan sebagai buffer zone untuk mengurangi kepadatan SPBU di dalam Kota Makassar.
“Kalau tidak ada kepastian, antrean akan terus begini, merugikan masyarakat. Kalau sudah sampai empat lapis, menurut saya sudah menutup jalan karena tidak ada yang mengatur prioritas. Akhirnya hanya mengular,” katanya.





