
Pertamina berencana memprioritaskan pelayanan Solar di kawasan tersebut, termasuk melakukan rekonfigurasi nozzle untuk meningkatkan kapasitas pelayanan.
“Di Klaster Pelabuhan ini karena memang mayoritas konsumennya adalah truk dan juga armada logistik, sehingga ini akan kami prioritaskan produk Solar, termasuk nanti rekonfigurasi nozzle,” jelasnya.
Berbeda dengan klaster lainnya, pengisian Solar di kawasan pelabuhan tidak akan dibatasi berdasarkan jam. Kebijakan tersebut mempertimbangkan aktivitas kendaraan logistik yang menyesuaikan dengan jadwal bongkar muat dan kedatangan kapal.
“Untuk Klaster Pelabuhan ini tidak ada jam pembatasan waktu pembeliannya. Prioritasnya untuk angkutan logistik,” ungkap Deny.
Selanjutnya, Klaster Perintis mencakup kawasan dari Bandara Sultan Hasanuddin di Sudiang hingga wilayah sekitar Universitas Hasanuddin (Unhas).
Empat SPBU yang masuk dalam klaster ini diprioritaskan sebagai pusat pelayanan Solar, yakni SPBU Pintu 1 Unhas, SPBU Tamalanrea atau depan BTP, SPBU Perintis KM 16, serta SPBU KM 18/Pai.
Namun, Pertamina tetap memberlakukan pembatasan waktu pengisian Solar di kawasan tersebut.





