
SOLUSIMEDIA.ID, MAKASSAR — Universitas Hasanuddin (Unhas) memperkuat upaya pengembangan solusi lingkungan berbasis riset melalui inovasi pengelolaan sampah organik terpadu. Inisiatif tersebut diperkenalkan kepada Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor-Leste, H.E. Dominic Jermey CVO OBE, dalam kunjungan yang dirangkaikan dengan pengoperasian perdana uji coba Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Unhas, Senin (19/10/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri Rektor Unhas, Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc., bersama delegasi Inggris. TPST yang dikembangkan melalui inovasi Fakultas Peternakan Unhas ini mengusung konsep ekonomi sirkular dengan mengolah sampah organik menjadi sumber daya yang memiliki nilai guna dan potensi ekonomi.
Dalam kunjungan tersebut, rombongan meninjau sejumlah fasilitas yang terintegrasi dalam rantai pengolahan sampah. Proses diawali dari pemilahan dan pencacahan untuk menyiapkan sampah organik sebelum memasuki tahapan pengolahan berikutnya.
Rombongan kemudian melihat fasilitas budidaya maggot atau larva lalat Black Soldier Fly (BSF). Larva tersebut dimanfaatkan untuk mengonversi sampah organik menjadi biomassa yang kaya protein dan berpotensi digunakan sebagai bahan pakan ternak. Pendekatan ini diharapkan dapat membantu mengurangi timbunan sampah sekaligus menghasilkan produk bernilai ekonomi.
Penerapan ekonomi sirkular juga terlihat di kandang ayam Alope, unggas lokal khas Sulawesi Selatan yang menjadi bagian dari ekosistem pengolahan tersebut. Biomassa maggot berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber protein pakan, sementara hasil pengolahan bahan organik dapat mendukung produksi pupuk. Dengan pola ini, hasil dari satu tahapan dapat dimanfaatkan kembali untuk menunjang tahapan lainnya.
Selain fasilitas maggot dan peternakan, delegasi meninjau rumah cacing yang digunakan untuk proses vermikomposting. Melalui aktivitas cacing dalam menguraikan bahan organik, proses tersebut menghasilkan kasgot atau bekas media budidaya cacing yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan pembenah tanah dan pupuk organik.
Rombongan juga mengunjungi rumah lalat BSF untuk melihat proses budidaya serangga pengurai. Seluruh fasilitas tersebut dirancang sebagai satu kesatuan sistem yang menghubungkan pengurangan sampah, pemanfaatan kembali sumber daya, dan pengembangan kegiatan produktif.
Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor-Leste, Dominic Jermey, mengapresiasi kesempatan untuk melihat secara langsung inovasi yang dikembangkan Unhas dalam pengelolaan sampah dan penanganan perubahan iklim. Ia menilai kolaborasi Indonesia dan Inggris dapat mendorong pengembangan solusi iklim melalui riset dan pemanfaatan teknologi yang memberikan nilai tambah bagi perekonomian.
Dominic juga menyoroti pentingnya kemitraan strategis kedua negara dalam mendukung pertumbuhan hijau yang inklusif. Pengembangan inovasi rendah karbon dan ekonomi sirkular diharapkan berkontribusi terhadap upaya mengurangi emisi serta mencapai target net zero emissions.
Dalam kunjungan tersebut, Dominic turut memperoleh kesempatan bertemu mahasiswa dan mengenal potensi penelitian Sulawesi Selatan, termasuk kekayaan sejarah berupa lukisan gua prasejarah di kawasan Leang-Leang.
Sementara itu, Rektor Unhas, Jamaluddin Jompa, menegaskan bahwa kolaborasi internasional berperan penting dalam mendorong riset yang mampu menjawab persoalan nyata di masyarakat. Menurutnya, keberhasilan penelitian tidak hanya diukur dari hasil akademik, tetapi juga dari penerapan pengetahuan untuk menghasilkan solusi yang bermanfaat.
“Kerja sama ini sangat luar biasa bagi Unhas, terutama dalam mengembangkan riset agar hasilnya benar-benar menjadi solusi. Salah satu persoalan yang perlu kita jawab bersama adalah bagaimana mengonversi sampah menjadi sumber daya yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Jamaluddin.
Ia menjelaskan, pengembangan ekonomi rendah karbon perlu dihubungkan dengan manfaat sosial dan ekonomi. Melalui ekonomi sirkular, sampah yang sebelumnya menjadi beban lingkungan dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai guna sekaligus membuka peluang usaha.
Jamaluddin berharap model pengelolaan sampah terpadu yang dikembangkan Unhas dapat diterapkan lebih luas di berbagai daerah. Menurutnya, pendekatan tersebut berpotensi mengurangi timbunan sampah sekaligus mendorong aktivitas ekonomi berbasis sumber daya lokal.
Pengembangan budidaya maggot, produksi pupuk organik, dan pemeliharaan ayam Alope menjadi bagian dari upaya membangun rantai produksi yang saling mendukung. Pemanfaatan potensi lokal ini juga diharapkan membuka peluang usaha produktif bagi masyarakat dengan tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan.
Melalui uji coba operasional TPST tersebut, Unhas mendorong pemanfaatan hasil riset untuk memperkuat pengelolaan sampah, menekan emisi, dan mengembangkan ekonomi sirkular. Inisiatif ini diharapkan menjadi model pengolahan sampah berbasis inovasi yang dapat direplikasi untuk mendukung pembangunan rendah karbon dan pelestarian lingkungan. (*)





