
SOLSUIMEDIA.ID,MAKASSAR – Desa Popo di Kecamatan Galesong Selatan, Kabupaten Takalar, memiliki potensi sumber pangan yang melimpah. Sebagai wilayah pesisir, masyarakatnya memiliki akses terhadap ikan sebagai sumber protein hewani. Namun, kondisi tersebut belum sejalan dengan status gizi anak.
Data awal Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Himpunan Mahasiswa Kedokteran Hewan (HIMAKAHA) Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (Unhas) menunjukkan terdapat 38 kasus stunting atau sekitar 20,54 persen di desa tersebut.
Stunting merupakan persoalan yang dipengaruhi berbagai faktor. Selain kecukupan gizi, kualitas air, sanitasi, penyakit infeksi, serta perilaku hidup bersih turut menentukan proses tumbuh kembang anak. Berangkat dari pemahaman tersebut, mahasiswa HIMAKAHA Unhas mengembangkan Program OCEANS _(One Health Coastal Environment and Nutrition Sustainability)_ sebagai strategi pengendalian faktor risiko stunting berbasis potensi dan karakteristik wilayah pesisir.
Desa Popo dipilih karena memiliki karakter saling terkait. Wilayah ini kaya akan sumber pangan laut yang berpotensi mendukung pemenuhan gizi masyarakat. Tetapi juga menghadapi tantangan khas desa pesisir, seperti kualitas air dan sanitasi. Kondisi tersebut menjadikan Desa Popo sebagai lokasi yang tepat untuk menerapkan pendekatan One Health, yang memandang kesehatan manusia, lingkungan, dan sumber pangan sebagai satu ekosistem yang saling memengaruhi.





