In Memoriam Azwar Hasan : Binter, Kijang Tua, John Perkins dan Amplop Rejeki

“Cilaka”nya, saat mendalami isi the Confessions, saya sedang dalam tahap perekrutan ke dalam salah satu program USAID untuk Sulawesi Selatan. Untuk menjadi contractor pada bidang konsultansi Penguatan Media.
Beberapa bulan kemudian saya menghubungi Pak Aswar. Untuk menjadi Narsum. Dengan meminta Curriculum Vitae.
Kenapa sekarang harus pake CV, Ken? tanya Beliau. Saya bilang: “Ini program USAID, Pak Aswar”.
Dari ujung telpon Beliau berucap “Eh, kapan Kenny mau kasi’ kembali bukuku?”. Kami ketawa bareng-bareng. “CV-ta’ mo dulu, Kanda”, kataku, “Ndak pa-pa ji USAID, Kanda, die’?”. Kalau untuk kebaikan, jawab Pak Aswar, mengapa tidak?
CV Pak Aswar lolos background check di kantor pusat kami di Jakarta. Padahal CV itu mencantumkan jabatan Beliau sebagai Sekjen KPPSI. SI-nya adalah Syariat Islam. Dengan bercanda saya bilang ke Pak Aswar: berarti Bapak tidak pernah terlibat di Moro. Pak Aswar terkekeh-kekeh.
Anak pertama saya lahir. April 2006. Sebagai pria yang baru saja menjadi seorang Ayah, saya menyebarkan kabar bahagia itu lewat SMS ke daftar kontak. Ratusan ucapan selamat masuk. Saya tidak lagi ingat satu per satu siapa saja yang memberi ucapan. Keesokan harinya datang seorang Ibu berhijab ke rumah bersalin. Naik becak. Kalau tidak salah ditemani seorang anak kecil. Saya tidak kenal. Tapi rupanya Bu Aswar Hasan.





