In Memoriam Azwar Hasan : Binter, Kijang Tua, John Perkins dan Amplop Rejeki

“Bapak lagi ada acara KPID di luar kota, kata Bu Aswar.
“Selamat atas kelahiran anak, ta’, Pak. Ini ada titipan dari Bapak”.
Sepulang Bu Aswar saya mengirim SMS ke Pak Aswar. Mengucapkan terima kasih. Dan, saya sedikit bercanda: kayaknya tebal-tebal ini amplop, Pak Aswar?
“kemarin pas dapat kabar Kenny sudah jadi Ayah, pas juga saya baru terima honor seminar., Itu rejeki anaknya Kenny, Saya hanya meneruskan”.
Untuk pertama kalinya Pak Aswar pernah menolak memberi komentar. Bukan kepada saya secara langsung, tapi kepada reporter yang stasiun radio kami tugaskan. Saya menelpon Pak Aswar. Penasaran kenapa.
“Kenny, saya ini memang MSi. Tapi buuukan master segala iiiiilmu. Yang ditanya reportermu bukan bidang ilmuku, bela”.
Suatu waktu, karena seorang staf kantor sering menyebut Pak Aswar dengan sebutan Ustadz, saya pun ikut menyebut begitu. Saat jeda sebuah acara diskusi di salah satu hotel. Kami bersama-sama menyantap kue-kue di area makan.
Pak Aswar mendekatkan wajah ke arahku dan berbicara agak serius.
“Kenny, jangan panggil-panggil saya Ustadz. Berat sekali, Dinda, disebut Ustadz. Tanggung jawabnya besar dan tidak mudah. Saya belum sampai pada kapasitas seorang Ustadz”.





