
Munafri juga mengajak kolaborasi Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), masyarakat, hingga partai politik dalam membina warga di tingkat RT untuk ikut mengelola sampah.
Selain itu, Pemkot menunggu kepastian pembangunan PSEL (Pembangkit Listrik Tenaga Sampah) yang merupakan program prioritas nasional.
Sejumlah perusahaan dikabarkan sudah menjajaki kerja sama, namun masih dalam tahap penjajakan. “Kami berharap pengolahan sampah berjalan lancar sehingga hanya residu yang masuk ke TPA,” kata Munafri.
Sementara itu, Eddy Soeparno menegaskan komitmen pemerintah pusat dalam menyiapkan solusi strategis pengelolaan sampah.
Salah satu langkah yang tengah diformulasikan adalah pembangunan 33 unit incinerator dengan kapasitas minimal 1.000 ton sampah per hari di berbagai daerah.
Menurut Eddy, dengan regulasi baru yang lebih sederhana, investor akan lebih mudah terlibat. Sampah yang masuk ke incinerator akan dibakar untuk menghasilkan listrik yang langsung diserap PLN. Harga jual listrik dari sampah yang cukup tinggi dinilai dapat menggantikan skema tipping fee.
“Skema ini diharapkan bukan hanya mengurangi beban TPA, tetapi juga menjadi energi terbarukan yang bermanfaat langsung bagi masyarakat,” ujarnya.





