
Munafri menjelaskan bahwa tidak semua jenis sampah plastik memiliki nilai jual tinggi. Namun, Pemkot Makassar tetap mengoptimalkan pemanfaatannya.
“Ada bahan yang tidak terlalu laku seperti kemasan sampo dan snack. Tapi di sini sudah ada juga yang mau ambil. Sisa-sisanya ini biasanya kita jadikan bahan kerajinan,” ungkapnya.
Untuk sampah organik, Pemkot Makassar menerapkan sistem pengolahan berbasis masyarakat hingga tingkat RT dengan berbagai metode seperti komposter, eco-enzym, maggot, dan teba. Hasilnya dimanfaatkan untuk urban farming, budidaya ikan, dan peternakan ayam.
“Maggotnya kita bawa ke budidaya ikan dan peternakan ayam, terutama ayam petelur,” jelas Munafri.
Ia juga menekankan pentingnya pemilahan sampah di ruang publik serta perluasan edukasi pengelolaan sampah hingga ke sekolah.
Dengan pendekatan terintegrasi dan kolaboratif, Munafri menegaskan komitmen Kota Makassar menghadirkan pengelolaan sampah yang berkelanjutan, bernilai ekonomi, dan menjadi rujukan bagi daerah lain.
(*)





