
SOLUSIMEDIA.ID, JAKARTA — Perdebatan hangat tengah berlangsung di media sosial mengenai hubungan antara Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) dan penyakit jantung, setelah sejumlah netizen mengaitkan dua kondisi tersebut dalam diskusi online.
Isu ini memicu respons dari tenaga medis hingga menjadi bahan pembahasan yang ramai diperbincangkan publik.
Dalam klarifikasinya, dokter spesialis jantung menegaskan bahwa GERD dan penyakit jantung merupakan dua kondisi yang berbeda, dan GERD tidak menyebabkan penyakit jantung atau serangan jantung.
Pernyataan ini disampaikan sebagai respons terhadap sejumlah komentar netizen yang meyakini bahwa keluhan asam lambung dapat menjadi pemicu langsung gangguan jantung.
Menurut para ahli, meskipun gejala GERD dapat terlihat mirip dengan gejala yang muncul pada serangan jantung — seperti rasa nyeri atau sensasi terbakar di dada — keduanya memiliki mekanisme medis yang berbeda.
GERD terjadi ketika asam lambung naik ke kerongkongan dan menimbulkan sensasi tidak nyaman di dada bagian atas atau ulu hati.
Sementara itu, penyakit jantung, terutama serangan jantung, muncul akibat gangguan aliran darah ke otot jantung dan dapat menimbulkan gejala tambahan seperti tekanan berat di dada, nyeri yang menjalar ke lengan atau leher, dan keringat dingin.
Dokter juga memberikan penjelasan bahwa banyak kasus di mana penderita GERD atau nyeri ulu hati salah mengira kondisinya sebagai masalah jantung, sehingga penting bagi masyarakat untuk memahami perbedaan gejala secara lebih jelas.
Kekeliruan ini sering terjadi karena karakteristik gejala yang tumpang tindih, meskipun penyebab dasarnya berbeda.
Selain itu, sejumlah tenaga medis menekankan bahwa faktor risiko penyakit jantung yang sebenarnya meliputi kondisi seperti hipertensi, diabetes, merokok, obesitas, dan riwayat keluarga penyakit kardiovaskular, bukan komplikasi dari GERD itu sendiri.
Dengan demikian, fokus pencegahan penyakit jantung tetap pada pengelolaan gaya hidup dan pemantauan faktor risiko yang diakui secara medis.
Masyarakat diimbau untuk tidak mudah menarik kesimpulan dari pengalaman pribadi atau informasi yang beredar di media sosial tanpa merujuk pada pendapat profesional medis.
Konsultasi dengan dokter dan pemeriksaan lanjutan tetap menjadi langkah penting untuk mengetahui penyebab pasti dari gejala yang dirasakan.
(*)





