“Tapi intinya ini adalah suatu eksperimen dan bukan obat yang ampuh, yang bisa menyembuhkan penyakit, segala penyakit. Dan saya melihat beliau realistis mengenai hal ini,” jelasnya, mencerminkan sikap hati-hati yang diterapkan Indonesia dalam berperan di forum internasional tersebut.
Lebih jauh, tokoh diplomasi itu juga mengapresiasi prinsip kehati-hatian yang ditegaskan Presiden Prabowo, khususnya dalam hal menjaga kepentingan nasional dan nilai-nilai dasar Indonesia.
“Yang saya paling suka dan ini align juga dengan posisi Foreign Policy Community of Indonesia adalah bahwa kita masuk dengan hati-hati dan terus berpegang pada opsi untuk bisa keluar kalau ini bertentangan dengan prinsip kita dan kepentingan kita,” tegasnya, menggambarkan bahwa Indonesia tetap memiliki kedaulatan penuh atas kebijakan luar negerinya.
Selain mendapat penilaian dari kalangan diplomasi, Presiden Prabowo juga menekankan pentingnya mempertahankan sinergi dengan negara-negara mayoritas Islam lainnya dalam proses pelibatan di Board of Peace, sehingga arah kebijakan diplomasi Indonesia tetap mencerminkan kepentingan solidaritas dan kerja sama internasional demi terciptanya perdamaian yang berkelanjutan di wilayah konflik.





