
SOLUSIMEDIA.ID – Beberapa hari terakhir, media sosial ramai membicarakan mobil listrik yang mampu menerabas banjir di salah satu ruas jalan Jakarta.
Mobil yang diketahui adalah Chery J6, terlihat melaju santai saat kendaraan lain terpaksa berhenti karena genangan air terlalu tinggi.
Fenomena ini memunculkan anggapan bahwa mobil listrik lebih tahan terhadap banjir dibanding mobil berbahan bakar bensin.
Secara teknis, mobil listrik memang dirancang untuk menghadapi berbagai kondisi ekstrem, termasuk paparan air.
Namun, apakah benar mobil listrik setangguh itu saat menerjang banjir?
- Standar Perlindungan Baterai dari Air
Keamanan utama mobil listrik saat melewati genangan terletak pada sertifikasi Ingress Protection (IP), umumnya di level IP67 atau IP69.
Standar ini memastikan paket baterai dan motor listrik tersegel rapat dari debu dan air, bahkan mampu bertahan saat terendam pada kedalaman tertentu dalam durasi tertentu.
Komponen tegangan tinggi pada mobil listrik tidak memiliki kontak langsung dengan lingkungan luar. Risiko korsleting saat melewati genangan pun sangat kecil karena sistemnya tertutup rapat.
Berbeda dengan mobil bensin yang membutuhkan udara untuk proses pembakaran, mobil listrik tidak memiliki saluran udara masuk (intake) dan saluran pembuangan (exhaust).
Artinya, mobil listrik tidak berisiko mengalami water hammer, yaitu kondisi ketika air masuk ke ruang bakar dan merusak piston serta blok mesin.
- Sistem Keselamatan Otomatis dan Sensor Kebocoran
Mobil listrik juga dilengkapi sistem manajemen baterai (Battery Management System/BMS) yang sangat sensitif. Sensor akan memantau isolasi arus listrik secara terus-menerus.
Jika terdeteksi kebocoran arus atau indikasi air masuk ke area sensitif, sistem akan otomatis memutus aliran listrik dari baterai ke kendaraan dalam hitungan milidetik.
Fitur ini memastikan bodi mobil dan air di sekitarnya tidak teraliri listrik yang membahayakan penumpang maupun orang di luar kendaraan.
Namun perlu diingat, komponen pendukung seperti sistem pengereman, suspensi, dan interior tetap memiliki batas toleransi air yang sama seperti mobil konvensional.
- Batas Toleransi dan Risiko Jangka Panjang
Meski lebih aman dari risiko kerusakan mesin mendadak, menerjang banjir tetap bukan tindakan yang dianjurkan.
Risiko utama bukan sengatan listrik, melainkan daya apung kendaraan. Bobot baterai yang berat memang membuat pusat gravitasi rendah, tetapi kabin yang kedap bisa membuat mobil kehilangan traksi dan berpotensi hanyut jika arus air deras.
Selain itu, setelah melewati banjir, risiko jangka panjang tetap ada, seperti:
- Korosi pada konektor kelistrikan
- Karat pada suspensi dan kaki-kaki
- Gangguan pada modul elektronik
Air yang masuk ke celah kecil dapat memicu kerusakan bertahap. Karena itu, pemeriksaan menyeluruh di bengkel resmi sangat disarankan setelah kendaraan menerobos genangan tinggi.
Mobil listrik memang lebih tangguh terhadap risiko kerusakan mesin akibat air dibanding mobil bensin. Sistem tertutup dan proteksi kelistrikan membuatnya relatif aman dari korsleting dan water hammer.
Namun, bukan berarti mobil listrik kebal terhadap banjir. Risiko hanyut, kerusakan komponen mekanis, serta dampak jangka panjang tetap perlu diwaspadai.
Pada akhirnya, kehati-hatian tetap menjadi kunci utama keselamatan, baik menggunakan mobil listrik maupun mobil konvensional.
(*)





