Lifestyle

Tak Hanya Manusia, Hewan Juga Tertipu Ilusi Optik untuk Bertahan Hidup

SOLUSIMEDIA.ID — Ilusi optik kerap dianggap sebagai keunikan persepsi manusia. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa fenomena visual yang membingungkan ini juga dialami berbagai jenis hewan, bahkan dimanfaatkan sebagai strategi utama untuk bertahan hidup dan bereproduksi.

Sejumlah spesies menggunakan “tipuan visual” untuk meningkatkan peluang kawin atau menghindari predator.

Burung great bowerbird jantan, misalnya, menyusun kerikil dari ukuran kecil ke besar di arena pacarannya untuk menciptakan ilusi perspektif paksa sehingga tubuhnya tampak lebih besar di mata betina.

Laba-laba merak jantan juga mengangkat kaki dan memamerkan warna mencolok agar terlihat lebih besar saat menarik pasangan.

Tak hanya itu, beberapa ikan dan kupu-kupu memiliki pola menyerupai mata besar di tubuhnya untuk mengintimidasi predator. Strategi-strategi ini memunculkan pertanyaan: apakah hewan juga benar-benar tertipu oleh ilusi optik?

Otak Mengambil Jalan Pintas

Penelitian menunjukkan bahwa banyak hewan memang mengalami penyimpangan persepsi, meski tidak selalu dengan cara yang sama seperti manusia. Ilusi optik menjadi alat penting bagi ilmuwan untuk memahami bagaimana otak memproses informasi visual.

Jennifer Kelley, ahli biologi evolusi dari University of Western Australia, menjelaskan bahwa ilusi mengungkap bagaimana otak mengambil jalan pintas dalam mengolah informasi.

“Ilusi menunjukkan bahwa hewan, serta manusia, dapat salah menafsirkan informasi visual. Pemrosesan informasi itu tidak instan. Karena ada batasan seberapa banyak informasi yang dapat diperoleh, otak mengambil jalan pintas,” ujarnya, dikutip dari Live Science.

BACA JUGA  Fashion Show Kucing Meriahkan Zona 5 F8 Makassar 2024

Maria Santacà, peneliti perilaku dan kognisi hewan dari University of Vienna, menambahkan bahwa strategi visual semacam ini krusial untuk kelangsungan hidup.

“Banyak hewan menggunakan strategi visual seperti pembesaran ukuran atau kamuflase karena persepsi bukan tentang mereproduksi realitas secara setia, tetapi tentang bertahan hidup,” katanya.

Guppy Tertipu, Merpati Tidak

Salah satu ilusi paling terkenal adalah Ilusi Ebbinghaus, di mana sebuah lingkaran yang dikelilingi lingkaran kecil tampak lebih besar dibanding lingkaran identik yang dikelilingi lingkaran besar.

Dalam studi tahun 2025, Santacà menemukan bahwa ikan guppy tertipu oleh ilusi ini. Ketika sekumpulan makanan dikelilingi cakram kecil, guppy cenderung memilihnya lebih sering, seolah-olah jumlah makanannya lebih banyak.

Sebaliknya, merpati (ring doves) tidak secara konsisten tertipu oleh susunan visual serupa. Menurut Santacà, perbedaan ini dipengaruhi oleh ekosistem dan kebutuhan visual masing-masing spesies.

Guppy hidup di lingkungan bawah air yang dinamis sehingga sistem visualnya cenderung memproses gambaran global. Sementara merpati yang mencari biji kecil di tanah lebih membutuhkan ketelitian detail lokal, sehingga kurang rentan terhadap ilusi konteks seperti Ebbinghaus.

Manipulasi Konteks dan Ukuran

Ilusi juga dipengaruhi oleh konteks lingkungan. Pada kepiting biola, misalnya, betina lebih tertarik pada jantan dengan cakar besar. Namun daya tarik ini bersifat relatif. Seekor jantan akan terlihat lebih menarik jika diapit pesaing dengan cakar lebih kecil dibanding jika dikelilingi jantan bercakar besar.

BACA JUGA  Rutin Konsumsi Kacang Turunkan Risiko Kematian akibat Penyakit Jantung, Ini Temuan Riset Terbaru

“Strategi-strategi ini mengeksploitasi cara sistem visual menafsirkan konteks, membantu hewan terlihat lebih besar bagi pesaing, lebih kecil bagi predator,” ujar Santacà. “Di alam, yang penting bukanlah dilihat secara akurat, tetapi dipersepsikan dengan cara yang paling menguntungkan.”

Ilusi Tubuh dan Kamuflase

Ilusi tak hanya memengaruhi persepsi terhadap lingkungan, tetapi juga tubuh sendiri. Gurita dan tikus diketahui dapat mengalami versi ilusi “tangan karet” (rubber hand illusion), yang sebelumnya dianggap unik pada manusia. Fakta bahwa sistem saraf mereka berevolusi terpisah dari manusia membuat temuan ini semakin mengejutkan.

Kamuflase juga merupakan bentuk ilusi visual. Teknik seperti disruptive coloration (warna yang memecah bentuk tubuh) dan countershading (gradasi warna gelap di atas dan terang di bawah) membantu hewan menghindari deteksi predator.

Menurut Kelley, countershading sangat umum karena mampu mengatasi efek cahaya alami yang menciptakan bayangan terang dan gelap di tubuh hewan.

Pada akhirnya, ilusi optik menunjukkan bahwa persepsi bukan soal akurasi sempurna, melainkan tentang apa yang paling efektif dalam lingkungan tertentu. Bagi hewan maupun manusia, yang terpenting bukanlah melihat dunia secara persis apa adanya, tetapi melihatnya dengan cara yang membantu bertahan hidup.

(*)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button