
Dengan antisipasi yang matang, Munafri meminta petugas lapangan, termasuk BPBD, Damkar, camat, dan lurah, untuk menggunakan alat pelindung diri seperti masker saat bertugas.
Sementara Kepala Pelaksana BPBD Makassar, Fadli Tahar, menjelaskan bahwa fenomena El Nino merupakan pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang berdampak pada penurunan curah hujan secara signifikan di berbagai wilayah, termasuk Indonesia.
“Berdasarkan pengalaman sebelumnya, fenomena El Nino kerap berpasangan dengan La Nina dalam siklus iklim global,” paparnya.
Peristiwa serupa pernah terjadi pada 1997–1998, 2015–2016, serta 2023 yang saat itu Makassar menetapkan status darurat kekeringan.
Sekarang masuk siklus 2026, setelah sebelumnya 2025 dipengaruhi La Nina yang cenderung basah.
“Ketika suhu laut memanas, maka potensi kekeringan panjang akibat el
Nino menjadi sangat tinggi,” jelasnya.
Aksi nyata dalam Pengurangan Risiko Bencana (PRB), juga dilibatkan, termasuk organisasi kemanusiaan seperti Dompet Dhuafa, PMI, Baznas, serta relawan seperti Kalla Rescue serta Bosowa Peduli.
Pemkot Makassar juga telah memiliki dokumen Rencana Kontinjensi (Renkon) untuk berbagai jenis bencana, termasuk kekeringan.





