
Ia menjelaskan, sektor keuangan digital memiliki berbagai tantangan, mulai dari fluktuasi harga yang ekstrem, risiko keamanan siber, regulasi pemerintah, hingga potensi penipuan dan faktor psikologis investor.
Menurutnya, karakteristik aset kripto yang dikenal dengan prinsip high risk high return menuntut masyarakat untuk tidak sekadar mengikuti tren atau iming-iming keuntungan. Pemahaman mendalam terkait risiko dan mekanisme kerja aset kripto menjadi hal yang mutlak sebelum memutuskan berinvestasi.
Adi juga memaparkan bahwa perkembangan aset kripto di Indonesia menunjukkan tren yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Hingga Februari 2026, jumlah akun konsumen kripto telah melampaui 21 juta pengguna, dengan nilai transaksi sepanjang 2025 mencapai Rp482,23 triliun.
Ia menilai, mahasiswa memiliki peran strategis sebagai generasi melek digital untuk menjadi agen literasi keuangan, terutama dalam mengedukasi masyarakat terkait investasi aset digital. Peran ini penting untuk menekan potensi kerugian sekaligus meningkatkan kepercayaan publik terhadap inovasi keuangan digital.
Pemilihan Ambon sebagai lokasi kegiatan DFL, yang merupakan bagian dari rangkaian Bulan Literasi Kripto (BLK), bertujuan untuk mendorong pemerataan literasi keuangan digital di kawasan Timur Indonesia.





