
Namun, langkah tersebut dinilai tidak mudah karena membutuhkan biaya promosi dan pemasaran yang besar untuk mendapatkan trafik konsumen.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai kenaikan ongkir merupakan tanda berakhirnya era “bakar uang” di industri e-commerce.
Menurutnya, selama ini biaya pengiriman sebenarnya tetap ada, namun disubsidi oleh platform demi mengejar pertumbuhan pengguna dan transaksi. Kini, tekanan investor terhadap profitabilitas membuat perusahaan mulai memasuki fase monetisasi bisnis.
“Yang terjadi sekarang adalah transisi dari fase ekspansi menuju fase monetisasi,” ujar Yusuf.
Ia menjelaskan, pada akhirnya biaya logistik tetap harus ditanggung salah satu pihak dalam rantai transaksi, baik platform, penjual, pembeli, maupun kombinasi di antaranya.
Sementara itu, Direktur Ekonomi Digital CELIOS, Nailul Huda, menilai kenaikan biaya administrasi dan logistik berpotensi menurunkan permintaan karena konsumen Indonesia masih sangat sensitif terhadap harga barang.
Menurut Huda, pemerintah perlu memperkuat pengawasan terhadap persaingan usaha di industri e-commerce, termasuk mengawasi pola kenaikan biaya layanan yang dilakukan sejumlah platform secara bersamaan.





