
Pada perdagangan Senin (18/5/2026), nilai tukar rupiah kembali melemah hingga menyentuh level Rp17.662 per dolar AS. Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap potensi kenaikan harga barang dan biaya hidup masyarakat.
Berikut sejumlah dampak pelemahan rupiah yang dinilai dapat dirasakan masyarakat desa:
1. Harga BBM Berpotensi Naik
Pelemahan rupiah membuat biaya impor minyak mentah dan bahan bakar menjadi lebih mahal karena transaksi dilakukan menggunakan dolar AS. Kondisi ini berpotensi mendorong kenaikan harga BBM, terutama BBM non subsidi.
Dampaknya akan terasa hingga ke desa melalui meningkatnya biaya transportasi, distribusi barang, ongkos angkutan hasil pertanian, hingga biaya perjalanan masyarakat sehari-hari.
Pakar ekonomi dan bisnis Universitas Hasanuddin Makassar, Profesor Hamid Paddu, mengatakan penyesuaian harga BBM biasanya mengikuti mekanisme pasar.
“Begitu bahan bakunya naik, maka harga BBM juga berpotensi ikut naik,” ujarnya.
2. Harga Kebutuhan Pokok Ikut Meningkat
Banyak bahan pangan maupun bahan baku industri di Indonesia masih bergantung pada impor. Ketika rupiah melemah, harga barang impor menjadi lebih mahal dan berdampak pada kenaikan harga di tingkat konsumen.





