Di sisi pembiayaan, kredit perbankan tumbuh 5,46 persen menjadi Rp174,60 triliun. Kredit produktif masih mendominasi dengan pangsa 52,36 persen dari total kredit, sedangkan kredit konsumtif mencatat pertumbuhan lebih tinggi sebesar 8,74 persen. Sektor perdagangan besar dan eceran masih menjadi penerima kredit produktif terbesar dengan pangsa mencapai 21,86 persen.
Fungsi intermediasi perbankan juga tetap berjalan baik, tercermin dari Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 116,82 persen. Di sisi lain, kualitas kredit masih berada pada level yang terjaga dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) sebesar 3,74 persen. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa industri perbankan tetap mampu menyalurkan pembiayaan guna mendukung aktivitas ekonomi dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian.
Pertumbuhan juga terlihat pada sektor perbankan syariah yang mencatat kinerja lebih tinggi dibandingkan perbankan konvensional. Hingga April 2026, aset perbankan syariah tumbuh 35,92 persen menjadi Rp23,45 triliun. Penghimpunan Dana Pihak Ketiga meningkat 25,87 persen menjadi Rp15,33 triliun, sedangkan pembiayaan tumbuh 25,74 persen menjadi Rp18,88 triliun. Pangsa pasar aset perbankan syariah juga meningkat menjadi 10,87 persen dengan rasio Non Performing Financing (NPF) yang tetap rendah di level 1,80 persen.





