
Pendekatan humanis tersebut membuahkan hasil. Sebagian besar pedagang memilih membongkar lapaknya secara mandiri sehingga proses penataan berjalan lancar tanpa penolakan maupun konflik.
Selama lebih dari dua dekade, lapak-lapak pedagang berdiri di atas badan jalan bahkan menutup saluran drainase. Kondisi tersebut menyebabkan Jalan AMD menjadi salah satu titik kemacetan di Kecamatan Manggala, terutama pada akhir pekan ketika aktivitas perdagangan meningkat.
Menurut Ahmad, kendaraan yang berhenti di bahu jalan untuk berbelanja kerap menghambat arus lalu lintas. Di sisi lain, saluran drainase yang tertutup bangunan semi permanen membuat aliran air tidak berjalan optimal sehingga kawasan tersebut sering mengalami genangan saat hujan deras.
“Kalau dilihat, drainase tertutup sehingga air tidak mengalir dengan baik. Saat hujan kawasan ini selalu tergenang. Karena itu penataan dilakukan demi kepentingan masyarakat yang lebih luas,” jelasnya.
Setelah dilakukan penataan, kondisi Jalan AMD kini jauh lebih tertib. Badan jalan kembali dapat dimanfaatkan secara maksimal sehingga arus lalu lintas menjadi lebih lancar, sementara saluran drainase yang sebelumnya tertutup telah dibuka kembali untuk mengurangi potensi genangan dan banjir.





