
SOLUSIMEDIA.ID, MAKASSAR – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar terus memperkuat transformasi pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui program Jelajah Sampah yang digelar di Kecamatan Manggala, Minggu (12/7/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi DLH dalam membangun budaya memilah sampah dari sumbernya sekaligus mendorong penerapan ekonomi sirkular di tingkat masyarakat.
Dalam kegiatan tersebut, Ketua Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar, Melinda Aksa, meluncurkan Bank Sentra Sampah dan Sentra Urban Farming sebagai upaya memperluas jaringan pengelolaan sampah yang terintegrasi dengan pemberdayaan masyarakat dan ketahanan pangan.
Rangkaian kegiatan diawali dengan aksi plogging yang melibatkan masyarakat dan berbagai unsur pemerintah. Dari aksi tersebut berhasil dikumpulkan sekitar 17 kilogram sampah yang kemudian dipilah dan ditimbang sebagai bentuk edukasi pengelolaan sampah sejak dari sumbernya. Kegiatan dilanjutkan dengan talkshow lingkungan, Gerakan Pangan Murah, pasar tani, pameran hasil urban farming, hingga kelas praktik pengelolaan sampah dan lingkungan.
Ketua Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar, Melinda Aksa, mengatakan Kecamatan Manggala memiliki posisi strategis dalam transformasi pengelolaan sampah Kota Makassar. Menurutnya, kawasan yang selama ini identik dengan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) harus mampu menjadi contoh keberhasilan pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
“Manggala selama ini identik dengan TPA. Ke depan, kami ingin Manggala dikenal sebagai kecamatan percontohan dalam memilah sampah. Bukan lagi identik dengan bau dan kotor, tetapi menjadi simbol perubahan menuju lingkungan yang bersih, sehat, dan produktif,” ujarnya.
Ia menjelaskan, penguatan budaya memilah sampah telah dimulai sejak 2020 melalui program Makassar Memilah Sampah (MMS) yang menjadikan Manggala sebagai wilayah percontohan. Program tersebut kini terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor bersama Dinas Ketahanan Pangan serta Dinas Perikanan dan Pertanian.
Peluncuran Bank Sentra Sampah dan Sentra Urban Farming, lanjut Melinda, merupakan bagian dari strategi pengembangan ekonomi sirkular yang diinisiasi DLH Kota Makassar. Kehadiran kedua fasilitas tersebut diharapkan mampu mengurangi volume sampah yang berakhir di TPA sekaligus memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat melalui pengelolaan sampah dan pemanfaatan lahan produktif.
Pemerintah Kota Makassar juga menargetkan setiap RW memiliki sedikitnya satu bank sampah dan satu lokasi urban farming sebagai pusat edukasi, pengelolaan lingkungan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar, Helmi Budiman, menegaskan bahwa Jelajah Sampah merupakan salah satu program strategis DLH dalam memperluas edukasi sekaligus membangun partisipasi aktif masyarakat terhadap pengelolaan sampah.
Menurutnya, perubahan sistem pengelolaan sampah tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah, tetapi harus dimulai dari rumah tangga melalui kebiasaan memilah sampah.
“Jelajah Sampah akan terus kami laksanakan secara bergilir di seluruh kecamatan sebagai sarana edukasi sekaligus penguatan partisipasi masyarakat. Kami ingin membangun kesadaran bahwa pengelolaan sampah dimulai dari rumah, sehingga volume sampah yang masuk ke TPA dapat terus berkurang,” kata Helmi.
Ia menambahkan, DLH Kota Makassar juga terus melakukan pembenahan kawasan TPA Manggala sebagai tindak lanjut atas arahan Kementerian Lingkungan Hidup terkait penghentian sistem open dumping. Bersama Dinas Pekerjaan Umum, penataan kawasan TPA dilakukan secara bertahap agar memenuhi standar pengelolaan sampah yang lebih ramah lingkungan.
Mulai 1 Agustus 2026, hanya sampah residu yang diperbolehkan masuk ke TPA. Kebijakan tersebut menjadi alasan penting bagi DLH untuk terus mengedukasi masyarakat agar membiasakan pemilahan sampah sejak dari rumah.
Melalui program Jelajah Sampah, pengembangan Bank Sentra Sampah, serta Sentra Urban Farming, DLH Kota Makassar optimistis mampu memperkuat budaya pengelolaan sampah berbasis masyarakat, mengurangi beban TPA, serta mendukung terwujudnya Makassar yang bersih, berkelanjutan, dan berdaya saing menuju kembali meraih penghargaan Adipura. (*)





