
Ia menjelaskan, besarnya selisih antara pendapatan dan belanja mengindikasikan masih banyak dana yang tersimpan di kas daerah dan belum dikonversi menjadi program maupun kegiatan yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
“Artinya, uang yang tersimpan, uang yang ada di kas ini masih banyak. Pendapatannya lebih tinggi daripada belanjanya,” kata Fatoni.
Menurutnya, APBD yang telah disusun dengan baik hanya akan memberikan dampak apabila direalisasikan secara tepat melalui program pembangunan yang efektif dan menyentuh kebutuhan masyarakat.
Fatoni mengibaratkan anggaran sebagai energi utama yang menggerakkan roda pemerintahan. Karena itu, seluruh proses pengelolaan keuangan daerah, mulai dari perencanaan, penganggaran, pelaksanaan hingga pengawasan, harus dipahami sebagai satu kesatuan yang saling berkaitan.
“Anggaran itu ibarat darah sebagai energi untuk menjalankan program-program pemerintah dengan baik. Karena itu, seluruh proses mulai dari perencanaan, penganggaran, pelaksanaan hingga pengawasan harus dipahami secara utuh,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Fatoni juga menekankan pentingnya penerapan prinsip money follow program, yakni pengalokasian anggaran harus mengikuti program prioritas yang disusun berdasarkan kebutuhan masyarakat serta selaras dengan visi dan misi kepala daerah.





