
Menurutnya, pencampuran sampah organik, anorganik, dan residu justru membuat material yang masih memiliki nilai ekonomi kehilangan kualitas dan sulit dimanfaatkan kembali. Botol plastik, kardus, kaca, maupun kaleng yang tercampur dengan popok, pembalut, atau sisa makanan menjadi sulit dijual ke bank sampah. Begitu pula sampah organik yang sebenarnya dapat diolah menjadi kompos atau pakan maggot akan kehilangan potensi manfaat jika bercampur dengan limbah residu.
Karena itu, Marini menekankan bahwa pemilahan sampah menjadi tiga kategori merupakan langkah paling sederhana sekaligus paling penting yang dapat dilakukan masyarakat.
Ia juga mengingatkan masyarakat tidak perlu membeli tempat sampah dengan warna atau bentuk tertentu.
“Wadahnya tidak harus seragam atau sama bentuknya. Yang paling penting adalah fungsi pemisahannya, bukan warna tempat sampahnya,” jelasnya.
Selain membiasakan pemilahan sampah di rumah, Marini mengajak masyarakat memanfaatkan keberadaan bank sampah maupun Sentra Tukar Sampah yang telah tersedia di sejumlah wilayah Kota Makassar.
Menurutnya, sampah anorganik yang telah dipilah dapat ditukarkan menjadi uang maupun barang sehingga tidak hanya memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat, tetapi juga mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA.





