
SOLUSIMEDIA.ID, MAKASSAR — Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar mengandalkan dua inovasi unggulan dalam penilaian Innovative Government Award (IGA) 2026 yang diselenggarakan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) RI secara daring, Selasa (3/11/2026).
Dua inovasi tersebut dipaparkan langsung oleh Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, dari Balai Kota Makassar. Keduanya mencakup inovasi berbasis digital melalui Lontara+ (Layanan Online Terintegrasi Warga Makassar) dan inovasi non-digital di bidang mitigasi bencana, yakni SALAMA (Sahabat Anak Lewat Afirmasi tentang Aman Bencana).
Dalam presentasinya, Munafri menjelaskan bahwa Lontara+ merupakan platform layanan digital terpadu yang dikembangkan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Makassar sejak 2025.
Aplikasi tersebut dibangun untuk mengatasi fragmentasi layanan publik yang sebelumnya tersebar di lebih dari 300 aplikasi berbeda. Melalui Lontara+, berbagai layanan pemerintahan diintegrasikan dalam satu platform guna memudahkan masyarakat sekaligus meningkatkan efektivitas tata kelola pemerintahan.
Hingga saat ini, Lontara+ telah memiliki lebih dari 76 ribu pengguna aktif dengan total aktivasi mencapai 3,9 juta kali. Platform tersebut juga dimanfaatkan untuk mengintegrasikan data antarorganisasi perangkat daerah (OPD), menyederhanakan akses pelayanan, serta mempercepat penanganan pengaduan masyarakat.
Dari sekitar 20 ribu aduan yang masuk, sebanyak 18.819 aduan telah berhasil diselesaikan atau mencapai tingkat penyelesaian sebesar 91,7 persen.
Selain inovasi digital, Pemkot Makassar turut memperkenalkan SALAMA sebagai pendekatan mitigasi bencana yang menyasar anak-anak usia sekolah. Program yang diinisiasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar ini menggabungkan edukasi kebencanaan dengan penguatan kesiapan mental anak dalam menghadapi situasi darurat.
SALAMA menggunakan metode Hypno-Shield, yakni pendekatan afirmasi positif berbasis hipnoterapi dan psikologi. Pelaksanaannya melibatkan Dinas Pendidikan, psikolog, serta Komunitas Hipnoterapi Makassar.
Melalui metode tersebut, siswa tidak hanya diberikan pemahaman mengenai prosedur keselamatan dan langkah penyelamatan saat bencana, tetapi juga dilatih mengendalikan rasa takut dan kepanikan ketika menghadapi kondisi darurat.
Munafri mengatakan, kesiapsiagaan bencana perlu dibangun melalui dua aspek, yakni pengetahuan teknis dan kesiapan psikologis. Dengan demikian, anak-anak diharapkan mampu memahami tindakan yang harus dilakukan sekaligus menjaga ketenangan saat terjadi bencana.
Implementasi SALAMA mencatat peningkatan pemahaman siswa mengenai kesiapsiagaan bencana dari 45 persen menjadi 80 persen. Program ini juga telah menjangkau sekitar 400 lingkungan sekolah.
Munafri menegaskan, keberlanjutan kedua inovasi tersebut didukung landasan regulasi, yakni Peraturan Daerah Nomor 9 Tahun 2023 tentang Inovasi Daerah dan Peraturan Wali Kota Nomor 53 Tahun 2024.
Melalui keikutsertaan dalam penilaian IGA 2026, Pemkot Makassar berupaya memperkuat pengembangan inovasi pelayanan publik, baik melalui transformasi digital maupun pendekatan langsung kepada masyarakat.
Pemerintah kota juga berkomitmen menjaga keberlanjutan Lontara+ dan SALAMA agar manfaat kedua inovasi tersebut dapat dirasakan masyarakat secara berkelanjutan. (*)





