
“Daerah sekitar aliran sungai tanahnya menjadi lahan persawahan dan kebun yang subur. Menjadi sumber kehidupan untuk kesejahteraan warga,” imbuhnya.
Berselang 11 hari setelah Danny mencetuskan ide menjadikan Lutra sebagai Kota Wisata Sungai, kritik datang dari Tokoh Pemuda Lutra, Bahtiar Manadjeng.
Diungkapkan Batti, sapaan karib Bahtiar Manadjeng, janji itu tidak relevan dengan kondisi dan persoalan yang dihadapi Kabupaten Lutra saat ini.
“Mestinya DP (Danny Pomanto) melihat lebih detail problem utama, kegiatan ekonomi masyarakat dan kebutuhan masyarakat Luwu Utara terkait keberadaan beberapa DAS (Daerah Aliran Sungai) di Lutra,” ujarnya, Jumat (15/11/2024).
Merespon kritik Batti, Juru Bicara Danny – Azhar (DIA) Asri Tadda angkat bicara. Menurutnya, kritik itu muncul dari konteks yang kurang tepat dan salah sasaran.
“Itu bukan janji, tapi merupakan cetusan ide dari Pak Danny Pomanto, dan sebenarnya dikhususkan untuk optimalisasi potensi wisata sungai di Seko dan Rongkong, bukan Luwu Utara secara umum,” kata Asri.
Dikatakan Asri, pengembangan pariwisata hijau berbasis pangan memang menjadi salah satu program unggulan dari pasangan Danny – Azhar.





