
Helmy menambahkan, MEC Hub diharapkan menjadi pusat koordinasi, pembelajaran, dan inovasi bagi seluruh pemangku kepentingan dalam menerapkan konsep ekonomi sirkular.
Kolaborasi ini diharapkan tidak hanya menekan timbunan sampah, tetapi juga melahirkan inovasi sosial dan ekonomi baru bagi warga.
“Kita tidak bisa bekerja sendiri. Kota berkelanjutan hanya bisa terwujud ketika seluruh elemen bergerak bersama. Makassar Eco Circular Hub menjadi awal dari langkah panjang kita menjaga bumi, mulai dari kota kita sendiri,” tukasnya.
Anggota Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar, Marini Ambo Wellang, turut memaparkan konsep dasar MEC Hub. Menurutnya, program ini dibangun atas tiga pilar utama: edukasi, inovasi, dan pemberdayaan komunitas.
“MEC Hub bukan hanya tempat belajar dan berinovasi, tapi juga ruang bertumbuhnya gerakan masyarakat yang berdaya secara ekonomi lewat pengelolaan sampah,” ujarnya.
Dalam implementasinya, camat berperan sebagai koordinator edukasi dan pelatihan petugas kebersihan, lurah serta RT/RW memetakan sumber dan potensi sampah, sementara kelompok masyarakat mengelola Bank Sampah Unit (BSU) dan produk daur ulang.





