
SOLUSIMEDIA.ID, MAKASSAR- Di tengah meningkatnya persoalan sampah rumah tangga yang menumpuk di kawasan permukiman, sekelompok dosen dari Universitas Negeri Makassar (UNM) hadir membawa solusi sederhana namun berdampak besar.
Mereka menginisiasi langkah konkret dan mengubah cara pandang warga terhadap limbah, dari sekadar masalah menjadi potensi untuk menjaga keberlanjutan air dan lingkungan.
Tim dosen dari Jurusan Geografi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UNM, melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di Kebun Tetangga, Perumahan Multi Samata Asri, Romang Lompoa, Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa, (27/4/2025)
Kegiatan bertema “Edukasi Pemanfaatan Sampah Organik Menjadi Kompos untuk Pengelolaan Sumber Daya Air yang Berkelanjutan: Solusi Berbasis Masyarakat” ini mendapat pendanaan penuh dari PNBP FMIPA UNM.
Program tersebut diketuai oleh Dinil Qaiyimah, S.Pd., M.Sc., bersama anggota tim pengabdi Drs. Sulaiman Zhiddiq, M.Si., Prof. Rosmini Maru, S.Pd., M.Si., Ph.D., Dr. Muhammad Yusuf, S.Si., S.Pd., M.Pd., dan Nurul Ilmi Rasjusti, S.Pd., M.GIS. Mereka melibatkan tim teknis, komunitas Kebun Tetangga, serta mahasiswa Jurusan Geografi UNM.
Dari Limbah Dapur Menjadi Pupuk dan Konservasi Air
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pengelolaan sampah organik yang berkelanjutan. Melalui pelatihan dan praktik langsung, warga diajak mengolah sisa makanan dan limbah dapur menjadi kompos dan pupuk organik.
Tidak sekadar edukasi, kegiatan ini juga memperkenalkan teknologi pencacah sampah organik, sebuah inovasi sederhana yang mempercepat proses pengomposan dan mempermudah masyarakat dalam mengolah limbah sehari-hari.

Melalui kegiatan ini, masyarakat tidak hanya diedukasi untuk memilah sampah, tetapi juga dilatih mengolah limbah organik menjadi kompos, pupuk, dan pakan ternak. Kegiatan ini menjadi langkah nyata dalam mengatasi penumpukan sampah yang selama ini kerap mencemari saluran air dan lingkungan sekitar.
“Selama ini masyarakat menganggap sampah hanya sebagai sisa, padahal jika diolah dengan benar bisa menjadi sumber daya baru,” ujar Dinil Qaiyimah, ketua tim pengabdi.
“Kami ingin menanamkan kesadaran bahwa pengelolaan sampah bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tapi juga setiap rumah tangga.”
Tim pengabdi menilai, kesadaran masyarakat akan pentingnya pengelolaan sampah perlu terus diperkuat. Sebab, permasalahan sampah kini telah menjadi salah satu penyebab utama kerusakan ekosistem, termasuk munculnya bencana hidrometeorologi seperti banjir dan pencemaran sumber daya air.
Solusi Lingkungan yang Berkelanjutan
Permasalahan sampah, menurut para akademisi UNM, memiliki kaitan erat dengan isu lingkungan global seperti perubahan iklim dan bencana hidrometeorologi.
Sampah organik yang tidak terkelola dengan baik dapat melepaskan gas metana, mencemari air tanah, serta memicu banjir akibat tersumbatnya saluran air atau aliran sungai.
Melalui pendekatan berbasis masyarakat, program ini mendorong warga untuk berkontribusi langsung dalam konservasi air dan pengurangan emisi gas rumah kaca.
“Dari kegiatan sederhana seperti ini, kita sebenarnya sedang membangun ketahanan lingkungan dari level paling bawah,” tambah Dinil.
Dampak Nyata bagi Warga
Hasil pelaksanaan program menunjukkan perubahan positif di lingkungan Kebun Tetangga. Warga kini lebih sadar pentingnya pemilahan dan pengelolaan limbah organik, serta mulai menerapkan praktik pengomposan di rumah masing-masing.
Selain manfaat ekologis, program ini juga membuka peluang ekonomi baru. Beberapa warga telah mencoba menjual kompos hasil olahan, sedangkan yang lain memanfaatkannya untuk memperkaya tanah di kebun sayur rumah tangga.
“Sekarang kami tidak lagi membuang sampah ke selokan. Justru kami berlomba membuat pupuk sendiri,” ungkap salah satu warga peserta pelatihan dengan antusias.
Kolaborasi dan Dukungan Penuh UNM
Program pengabdian ini menjadi contoh kolaborasi efektif antara kampus dan komunitas lokal dalam menjawab tantangan lingkungan. Tim dosen UNM berharap kegiatan ini dapat direplikasi di wilayah lain di Sulawesi Selatan dan Indonesia pada umumnya.
Keberhasilan kegiatan ini tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak di lingkungan Universitas Negeri Makassar. Tim pengabdi menyampaikan apresiasi kepada Rektor UNM dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M UNM) atas dukungan pendanaan dan fasilitasi kegiatan melalui hibah PNBP tahun 2025.
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Fakultas MIPA dan Jurusan Geografi UNM yang turut berperan aktif dalam membantu pelaksanaan program hingga selesai dengan baik.
Menanam Nilai Keberlanjutan dari Rumah Sendiri
Kegiatan PkM ini menjadi contoh nyata bahwa perubahan besar dapat dimulai dari lingkungan terkecil yaitu rumah tangga.
Melalui kolaborasi antara akademisi dan masyarakat, program ini menunjukkan bahwa pendidikan lingkungan yang aplikatif dapat menciptakan dampak nyata bagi keberlanjutan sumber daya air dan peningkatan kualitas hidup warga.
Dari Kebun Tetangga, semangat hijau itu kini mulai tumbuh. Sampah tak lagi menjadi beban, melainkan berkah untuk bumi yang lebih lestari.(*)





