
Melalui layar monitor besar di pusat komando tersebut, setiap aduan warga terlihat jelas mulai dari proses penerimaan hingga tindak lanjut.
Dirancang sebagai platform terpadu seluruh layanan publik, LONTARA+ menjadi tonggak awal pengembangan sistem operasi mobile berbasis Linux milik Pemkot Makassar.
Ke depan, aplikasi ini akan menjadi program flagship 2025–2030, sekaligus tulang punggung transformasi digital kota.
Pada kesmepatan ini, Roem yang juga Mantan Kabag Humas Pemkot Makassar, menyebutkan aplikasi LONTARA+ juga mencatat pertumbuhan signifikan pada jumlah pengguna. Hingga hari ini, aplikasi tersebut telah diunduh oleh 42.391 pengguna.
Dimana, Kecamatan Manggala menjadi wilayah dengan paling banyak pengguna, yakni 4.686 downloader, dan registrasi terbanyak ada di Kelurahan Manggala dengan 878 registrasi.
“Sementara yang terendah adalah wilayah kepulauan Sangkarang, dengan 378 downloader,” kata Roem.
Tak hanya aduan layanan publik, LONTARA+ juga sudah terhubung dengan Inspektorat Kota Makassar untuk menangani laporan pungli, indikasi korupsi, dan pelanggaran etika ASN.
“Untuk aduan pengawasan, pelapor dilindungi melalui sistem blower. Kami tidak dapat melihat identitasnya karena langsung ditangani Inspektorat,” tegasnya.





