
Ia menyebut adanya kekeliruan logika berupa false conjunction, yakni mengaitkan peristiwa-peristiwa yang berdiri sendiri seakan memiliki hubungan sebab-akibat.
Selain itu, muncul pula pola guilt by association, di mana seseorang diposisikan seolah bersalah hanya karena dikaitkan dengan isu tertentu tanpa dasar pembuktian yang memadai.
“Ini bukan kerja jurnalistik yang sehat, melainkan narasi sugestif. Pembaca digiring untuk percaya bahwa ‘banyak isu berarti banyak kesalahan’, padahal itu sesat pikir,” ujarnya.
Terkait dinamika internal kampus, Asratillah menegaskan bahwa dukungan mayoritas Senat Akademik kepada Prof. JJ seharusnya dipahami sebagai keputusan kolektif yang lahir dari pertimbangan rasional para akademisi.
Ia menilai, legitimasi tersebut justru menunjukkan proses akademik yang berjalan normal, bukan anomali yang patut dicurigai.
Di sisi lain, berbagai capaian Unhas di tingkat nasional dan internasional selama kepemimpinan Prof. JJ, menurutnya, merupakan konteks penting yang tidak boleh dihapus dari pembacaan publik.
“Unhas tidak boleh diseret ke logika pilkada. Kampus bukan panggung propaganda kelabu. Jika ini terus dipelihara, yang rusak bukan hanya nama seseorang, tetapi marwah institusi,” pungkasnya.





