Ia mengingat kembali ajaran para tokoh pendiri bangsa, termasuk pesan Proklamator sekaligus Presiden pertama RI Sukarno (Bung Karno) tentang pentingnya berdiri di atas kaki sendiri (berdikari).
Ia juga menyebut Panglima Besar Soedirman sebagai teladan dalam mempercayai kemampuan nasional untuk bertahan dan berjuang.
Prabowo menjelaskan bahwa dinamika geopolitik global saat ini tidak selalu berjalan secara ideal.
Ia menilai bahwa dalam kondisi nyata hubungan internasional, negara yang kuat sering menentukan arah dan kebijakan sendiri, sementara negara yang lemah cenderung mengalami tekanan.
Oleh karena itu, menurutnya, Indonesia wajib memperkuat sistem pertahanan, kemandirian politik, dan kapasitas nasional secara lebih nyata.
Pernyataan Prabowo ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran dunia terhadap konflik besar berskala global.
Banyak pemimpin dunia dilaporkan merisaukan potensi pecahnya Perang Dunia Ketiga, hal yang menurut Prabowo menjadi salah satu alasan Indonesia harus siap menghadapi berbagai tantangan tanpa terlalu bergantung pada dukungan eksternal.
Rakornas tersebut dihadiri oleh para pejabat pusat dan daerah serta unsur TNI dan Polri, yang menunjukkan sinergi antara pemerintahan dan pertahanan dalam merumuskan arah strategis pembangunan nasional di berbagai sektor, termasuk keamanan dan kedaulatan bangsa.





