Lifestyle

10 Paspor Terlemah di Dunia 2026: Ketimpangan Mobilitas Global Masih Nyata

SOLUSIMEDIA.ID — Mobilitas internasional tetap menjadi salah satu indikator paling jelas dari ketidaksetaraan global.

Pada 2026, kekuatan paspor masih menentukan seberapa mudah warga suatu negara dapat bepergian untuk tujuan wisata, bisnis, pendidikan, maupun kunjungan keluarga.

Peringkat paspor global biasanya mengukur jumlah destinasi yang dapat diakses tanpa visa, melalui visa saat kedatangan (visa on arrival), atau dengan otorisasi perjalanan elektronik.

Semakin rendah peringkat suatu negara, semakin sedikit destinasi yang bisa diakses tanpa persetujuan kedutaan terlebih dahulu.

Data 2026 menunjukkan kesenjangan yang mencolok: sementara beberapa paspor memberikan akses ke lebih dari 180 destinasi, sebagian lainnya hanya memungkinkan perjalanan ke kurang dari 40 negara.

Dampaknya tidak hanya administratif, tetapi juga ekonomi—biaya perjalanan lebih tinggi, waktu tunggu lebih lama, serta proses pengajuan yang lebih rumit.

Faktor yang memengaruhi kekuatan paspor meliputi hubungan diplomatik, stabilitas politik dan keamanan dalam negeri, persepsi risiko migrasi, serta kondisi geopolitik global.

Berikut 10 paspor dengan peringkat terendah pada 2026:

10, 9, 8. Eritrea, Korea Utara, Palestina

Akses bebas visa: 38 destinasi

Warga di wilayah ini menghadapi pembatasan mobilitas yang signifikan. Kebijakan isolasionis dan sanksi membatasi perjalanan internasional Korea Utara.

BACA JUGA  Satgas CS-137 Nyatakan Produk CPI Tak Terkontaminasi Cesium

Sementara itu, dinamika politik dan ketegangan regional memengaruhi akses internasional Eritrea. Warga Palestina menghadapi hambatan tambahan akibat pengakuan negara yang terbatas serta kompleksitas kontrol perbatasan.

  1. Bangladesh

Akses bebas visa: 37 destinasi

Meski mengalami kemajuan ekonomi dan memiliki tenaga kerja migran yang besar, paspor Bangladesh masih terbatas. Perjanjian bebas visa bilateral yang minim serta kekhawatiran pelanggaran izin tinggal menjadi faktor penghambat.

  1. Nepal

Akses bebas visa: 35 destinasi

Nepal relatif stabil secara politik dalam beberapa tahun terakhir. Namun, jaringan diplomatik yang terbatas dan sedikitnya perjanjian bebas visa timbal balik membatasi kekuatan paspornya.

  1. Somalia

Akses bebas visa: 33 destinasi

Ketidakstabilan berkepanjangan dan tantangan tata kelola berdampak besar pada mobilitas warga Somalia. Persepsi risiko keamanan dan migrasi memengaruhi kebijakan masuk negara lain.

  1. Pakistan dan Yaman

Akses bebas visa: 31 destinasi

Konflik yang terus berlangsung di Yaman secara signifikan membatasi mobilitas warganya. Pakistan, meski memiliki hubungan diplomatik luas, masih menghadapi pembatasan akibat persepsi keamanan dan kekhawatiran migrasi.

  1. Irak

Akses bebas visa: 29 destinasi

BACA JUGA  9 Makanan Kaya Polifenol yang Terbukti Bantu Jaga Kesehatan Jantung

Upaya rekonstruksi dan reformasi kelembagaan di Irak belum sepenuhnya meningkatkan akses perjalanan. Konflik historis dan pertimbangan keamanan tetap memengaruhi kebijakan visa internasional.

  1. Suriah

Akses bebas visa: 26 destinasi

Perang saudara berkepanjangan dan sanksi ekonomi membuat paspor Suriah termasuk yang paling terbatas. Warganya menghadapi pemeriksaan visa ketat dan persyaratan dokumentasi tambahan.

  1. Afghanistan

Akses bebas visa: 24 destinasi

Afghanistan menempati peringkat paspor terlemah pada 2026. Ketidakstabilan politik berkepanjangan, perubahan struktur pemerintahan, serta keterlibatan diplomatik yang terbatas berkontribusi pada rendahnya akses bebas visa.

Cerminan Realitas Geopolitik

Perbedaan antara paspor kuat dan lemah mencerminkan realitas geopolitik global. Negara dengan pemerintahan stabil, ekonomi kuat, dan jaringan diplomatik luas cenderung lebih mudah menegosiasikan perjanjian perjalanan timbal balik.

Sebaliknya, negara yang menghadapi konflik internal atau hubungan internasional yang tegang sering kesulitan memperoleh pengaturan serupa.

Bagi warganya, keterbatasan paspor berarti hambatan dalam akses pendidikan, peluang kerja global, hingga konektivitas internasional.

Seiring perubahan kebijakan perjalanan dunia, peringkat paspor bukan hanya soal mobilitas—tetapi juga gambaran ketimpangan struktural antarnegara di panggung global.

(*)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button