
Pembahasan tersebut memperlihatkan bahwa peacebuilding memiliki keterkaitan erat dengan keamanan, pembangunan, tata kelola pemerintahan, diplomasi, hingga kepentingan strategis suatu negara.
Kegiatan dibuka oleh Ishaq Rahman, S.IP., M.Si., Koordinator Mata Kuliah Sistem Politik dan Kebijakan Luar Negeri Jepang Prodi HI Unhas. Ia menilai isu perdamaian memiliki relevansi luas dengan berbagai tantangan yang dihadapi negara saat ini.
“Perdamaian bukan saja kondisi tidak ada peperangan. Perdamaian, terutama dalam perspektif Jepang, merambah ke wilayah pembenahan institusi, bahkan hingga ke penanganan bencana alam,” kata Ishaq.
Sementara itu, Andi Ahmad Yani, S.Sos., M.Si., yang mewakili CPCD Unhas, menekankan pentingnya kolaborasi antarlembaga untuk memperkaya pemahaman mahasiswa mengenai perdamaian dan resolusi konflik.
“Kami berharap dapat terbangun kolaborasi yang lebih intensif dan nyata antara Universitas Hasanuddin dan Rikkyo University dalam isu ini,” ujarnya.
Diskusi dimoderatori Rhin Khairina Rahmat, S.IP., M.Si., yang merupakan salah satu team teaching mata kuliah tersebut.
Kuliah umum ini menegaskan bahwa peacebuilding tidak berhenti pada upaya menghentikan perang. Lebih jauh, proses tersebut mencakup pembangunan kondisi sosial, ekonomi, institusi, dan keamanan yang mampu mencegah konflik kembali terjadi. (*/hi/rhin)





