BusinessNasional

OJK: Sektor Jasa Keuangan Stabil, Kredit Tumbuh 13,58 Persen

SOLUSIMEDIA.ID,JAKARTA-Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi menegaskan stabilitas sektor jasa keuangan nasional tetap terjaga di tengah ketidakpastian geopolitik dan tekanan inflasi global. Di tengah kondisi tersebut, fungsi intermediasi perbankan justru menunjukkan akselerasi dengan pertumbuhan kredit mencapai 13,58 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Juli 2026.

Hal tersebut disampaikan Friderica dalam jumpa pers hasil Rapat Dewan Komisioner OJK di Jakarta, Senin (7/9/2026).

“Sektor Jasa Keuangan stabil di tengah ketidakpastian geopolitik dan tekanan inflasi global,” kata Friderica.

Menurut Friderica, OJK terus memperkuat berbagai kebijakan untuk menjaga stabilitas sekaligus meningkatkan daya dukung sektor jasa keuangan terhadap perekonomian nasional.

Penguatan tersebut tercermin dari kinerja intermediasi perbankan. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan pertumbuhan kredit pada Juli 2026 meningkat dari 12,67 persen yoy pada Juni menjadi 13,58 persen yoy.

Dengan pertumbuhan itu, total penyaluran kredit perbankan mencapai Rp9.135 triliun.

Menariknya, akselerasi kredit terutama didorong oleh pembiayaan untuk kegiatan investasi. Kredit Investasi tumbuh 25,13 persen yoy, jauh lebih tinggi dibandingkan Kredit Modal Kerja yang tumbuh 11,04 persen yoy dan Kredit Konsumsi sebesar 5,38 persen yoy.

BACA JUGA  OJK Resmi Cabut Izin Tennet HQ, Layanan Penyimpanan Kripto Dihentikan

Dari sisi debitur, korporasi menjadi motor pertumbuhan dengan kredit yang meningkat 22,10 persen yoy. Sementara kredit UMKM juga mulai menguat, dengan pertumbuhan 1,62 persen yoy pada Juli 2026, naik dari 1,05 persen yoy pada bulan sebelumnya.

Berdasarkan kepemilikan, kredit bank BUMN mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 16,95 persen yoy.

Akselerasi penyaluran kredit tersebut belum menimbulkan lonjakan risiko yang berarti. Rasio Non-Performing Loan (NPL) gross tercatat 2,10 persen pada Juli 2026, relatif stabil dibandingkan 2,09 persen pada Juni.

Sementara NPL net membaik menjadi 0,81 persen dari 0,82 persen.

Rasio Loan at Risk (LaR) juga turun dari 8,47 persen menjadi 8,39 persen. Di sisi permodalan, ketahanan industri perbankan semakin kuat dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) yang meningkat menjadi 23,84 persen dari 23,70 persen.

Kondisi tersebut menunjukkan ruang ekspansi perbankan masih cukup kuat dengan risiko yang tetap berada dalam kondisi terjaga.

BACA JUGA  Wujudkan Inklusi Keuangan untuk Semua Ojk Sulselbar Gelar Financial Expo 2025

Ojk Rdkb

Pasar Modal Ikut Menguat

Selain perbankan, aktivitas pasar modal juga menunjukkan perkembangan positif. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi mengatakan investor asing masih mencatatkan net buy saham domestik sebesar Rp1,19 triliun sepanjang Agustus 2026.

Jumlah investor pasar modal juga bertambah 1,07 juta secara month-to-month pada Agustus 2026. Secara year-to-date, jumlah investor telah tumbuh 52,90 persen menjadi 31,14 juta investor.

Penghimpunan dana korporasi melalui pasar modal hingga akhir Agustus 2026 mencapai Rp128,80 triliun. Sementara itu, tujuh produk ETF Emas telah diterbitkan sejak instrumen tersebut diluncurkan pada 10 Agustus 2026, dengan total dana kelolaan mencapai Rp90,39 miliar.

Rangkaian perkembangan tersebut memperlihatkan sektor jasa keuangan masih memiliki daya tahan kuat. Stabilitas yang terjaga sekaligus akselerasi kredit, terutama kredit investasi dan korporasi, menjadi sinyal bahwa sektor keuangan terus menjalankan perannya sebagai penopang aktivitas ekonomi nasional di tengah tekanan eksternal.(*)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button