
“Sejak tahun lalu sebenarnya sudah berjalan. Waktu itu kami menjadi lokasi belajar peserta pelatihan dari DLH. Hanya saja belum semasif sekarang karena belum ada aturan yang mewajibkan pemilahan sampah dari sumber,” ujar Nirma, Selasa (4/8/2026).
Seiring berjalannya program, berbagai fasilitas pendukung juga dibangun secara bertahap. Kini hampir setiap lorong di kawasan tersebut telah dilengkapi ember penampungan sampah organik, dropbox khusus botol plastik, hingga tempat penampungan daun kering yang dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan kompos.
Nirma menjelaskan, penyediaan sarana tersebut merupakan bagian dari visi Ketua RT sebelumnya yang sejalan dengan program Pemerintah Kota Makassar dalam mendorong pengelolaan sampah dari sumber. Untuk mewujudkannya, pengurus lingkungan membangun sinergi dengan berbagai unsur masyarakat.
Gerakan ini melibatkan pengurus RT, Bank Sampah Unit, pengurus masjid, Kelompok Wanita Tani (KWT), kelompok perikanan, pemerintah kelurahan, hingga organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.
“Semua bergerak bersama. Tidak ada yang berjalan sendiri-sendiri. Kami terintegrasi dengan kelurahan dan OPD sehingga program lebih mudah dijalankan karena saling mendukung,” jelasnya.





