MakassarNews

Terima Gelar Doktor HC Unhas, Xanana Gusmao Soroti Bahaya Ketergantungan pada AI

SOLUSIMEDIA.ID,MAKASSAR-Perdana Menteri Timor Leste Xanana Gusmao mengingatkan generasi muda agar tidak menjadikan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) sebagai pengganti kemampuan berpikir. Menurutnya, teknologi harus digunakan sebagai alat bantu untuk memahami dan menyelesaikan berbagai persoalan, bukan membuat manusia kehilangan kemampuan untuk menganalisis.

Pesan tersebut disampaikan Xanana saat menerima gelar doktor honoris causa (HC) dari Universitas Hasanuddin (Unhas) di Baruga Andi Pangerang Pettarani, Makassar, Sabtu (5/9/2026). Gelar kehormatan diberikan melalui Program Doktor Administrasi Publik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unhas atas kiprahnya dalam perjuangan kemerdekaan Timor Leste, pembangunan negara, diplomasi, rekonsiliasi, dan perdamaian.

Meski menerima penghargaan tersebut, Xanana justru menegaskan bahwa dirinya bukanlah pahlawan. Ia menyebut rakyat Timor Leste sebagai pahlawan sejati yang memperjuangkan dan memenangkan kemerdekaan.

BACA JUGA  Terima 248 Mahasiswa KKN Unhas, Appi Dorong Kolaborasi Makassar Lebih Hijau dan Berkelanjutan

Xanana memandang gelar doktor kehormatan yang diterimanya sebagai amanat untuk terus bekerja bagi rakyat. Setelah 24 tahun merdeka, Timor Leste masih menghadapi berbagai tantangan, termasuk kemiskinan, pembangunan, dan persoalan sosial.

Dalam pidatonya, Xanana juga menyoroti pentingnya peran perguruan tinggi dalam melahirkan pemimpin masa depan. Menurutnya, kepemimpinan tidak bisa dibentuk hanya dengan menunjuk seseorang atau memberikan label sebagai pemimpin.

Pemimpin lahir melalui proses belajar, pengalaman, kemampuan mengamati, meneliti, serta memahami persoalan secara mendalam. Karena itu, universitas harus menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan pola pikir kritis dan ilmiah.

BACA JUGA  Perumda Terminal Makassar Metro Siapkan Terminal Daya Jadi Pusat Logistik dan Investasi

Xanana kemudian mengingatkan generasi muda agar tidak terlalu bergantung pada Google maupun AI. Ketergantungan berlebihan terhadap teknologi, kata dia, berisiko membuat manusia kehilangan kemampuan untuk berpikir secara mandiri.

“Teknologi seharusnya membantu manusia menyelesaikan masalah, bukan menggantikan kemampuan manusia untuk berpikir,” pesan Xanana.

Ia menilai generasi muda yang mampu meneliti, mencari solusi, memahami persoalan, dan memiliki visi masa depan merupakan fondasi penting bagi lahirnya pemimpin dunia.

Sebelum menghadiri penganugerahan gelar doktor HC di Unhas, Xanana juga bertemu Presiden ke-7 RI Joko Widodo di Solo, Jawa Tengah. Pertemuan tersebut membahas tantangan dan peluang Indonesia serta Timor Leste di tengah dinamika global.(*)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button